Risalah Tauhid

Selasa, 01 Januari 2008

Artikel Makna Alfatihah

Makna Alfatihah


Oleh


M. Thoyib HM



Bismillahirrahmanirrahim

Inilah asalnya Fatihah yang diturunkan Allah kedalam dunia ini kepada Nabi – Nabi wajiblah kita ketahui bahagian – bahagiannya

Alhamdu lillahi rabbil `alamiin

Kepada Nabi adam AS maujud kepada

Arrahmani Rahiim

Kepada Nabi Daud AS maujud kepada

Maliki Yaumid din

Kepada Nabi Sulaiman AS maujud kepada

Iyyaka Na`budu Wa Iyyaka Nasta`iin

Kepada Nabi Ibrahim AS maujud kepada

Ihdina Syiratal Mustaqiim

Kepada Nabi Ya`qub AS maujud kepada

Syiratal ladzi

Kepada Nabi Yusuf AS maujud kepada

An`amta `Alaihim

Kepada Nabi Musa AS maujud kepada

Ghairil Maghdhubi `Alaihim

Kepada Nabi Isa AS maujud kepada

Wa Laa Dhaaliin Amiin

Berhimpun semua Nabi kepada Muhammad SAW

Demikianlah asalnya Fatihah maka dari itulah hendaknya diketahui keadaan Fatihah yang diturunkan Allah SWT dipersada alam dunia ini supaya kita dapat sempurna apa – apa yang kita lakukan didalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, sehingga kita dituntut mengetahui arti atau tafsir dari Al – Quran karim terutama Ummul Kitab yang berkaitan dengan Fatihah itu sendiri.

Al – Fatihah juga terhimpun dua kalimah Syahadat, Nafi – Munfi – Isbat –Musbat.

Wa Man Lam Yuallimu Ma`Na Huma Fahuwa Kapir Muhalladun Fin Nar Wa An Shalla Wa Shiyama Ramadhan Wa Hijjul Baitillah Al Haram

Barangsiapa yang tidak tahu akan makna dua kalimah itu yaitu Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah maka ia itu orang kapir dikekalkan didalam api neraka dan jika ia sembahyang lima waktu dan puasa bulan ramadhan dan naik haji ke baitullah al haram sekalipun, artinya masih dalam neraka.

Jumat, 28 Desember 2007

Makalah Mencari Tuhan

Makalah Mencari Tuhan


Oleh : M. Thoyib HM




Sahabat, seringkah anda dihampiri pertanyaan-pertanyaan seperti'untuk apa semua ini? Apakah makna hidup saya? Kenapa hidup saya terasa atar saja, berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episodesenang dan sedih? Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?' pun ulai muncul di hati anda.
Sebenarnya, Allah setiap saat 'memanggil-manggil' kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya,terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupasehingga kalbunya dibuat-Nya 'menoleh' kepada Allah. Hanya saja, teramatsedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan,panggilan-Nya ini.Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terusmenerus mempertanyakan 'Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya?
Apa makna kehidupan saya?,' dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam
ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian?
Mencari kebenaran? Mencari 'Al-Haqq'? Allah, percayalah, akan selalu
menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.

Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya
kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu.
Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para
utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara
seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari
kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.

Bentuk 'pancingan' semacam ini pula yang dialami oleh para pencari,
maupun para Nabi. Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi
(ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa,
misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang
maha raja yang terbesar sepanjang sejarah, Ramses I. Hidup dalam
kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu 'galau'
ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu
menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Dia yang hidup dengan
ayahnya Ramses I, tentunya setiap hari melihat sisi kemanusiaan ayahnya,
normal saja. Dia mungkin hanya sedikit heran mengapa masyarakat mesir mau
menyembah ayahnya.

Hanya saja, kadang kemewahan, kenyamanan, mengubur harta kita yang
sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita
sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan,
mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau
sekolah, atau nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini
terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi
pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak
sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita
menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah 'potensi mencari Allah' yang
Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan
semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu
menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan pada
kita semenjak lahir.

Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak
menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari.
Sekolah, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah,
membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap
hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar
telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja,
tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti pola
yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan
mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.

Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum
terkubur. Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna
kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.

Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya
sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang
menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Dia 'menjerit' ingin
mencari Al-Haqq, dan 'rembesannya' kadang naik ke permukaan dalam bentuk
kegelisahan.

Sayang, sebagian orang segera membantai kegelisahannya, potensi
pencarian kebenarannya ini, justru pada saat ketika ia timbul; karena
secara psikologis hal ini memang terasa tidak nyaman. Maka untuk
melupakannya, ia semakin menenggelamkan diri lebih dalam lagi dalam
pekerjaannya, kesibukannya, bersenang-senang, atau berdalih menutupi
kegelisahannya dengan berusaha lebih lagi mencintai istri dan anak, atau
keluarga, menenggelamkan diri dalam keasyikan hobi… dan sebagainya.

Atau, membantainya dengan kesenangan spiritual sesaat, seperti
datang ke pengajian bukan dengan niat mencariNya tapi hanya untuk
melenyapkan kegelisahannya, seperti obat sakit kepala saja. Kegelisahan
hilang, dia pun pergi lagi.. Atau juga dengan mengindoktrinasi dirinya:
"Manusia diciptakan untuk beribadah!! Segala jawaban telah ada di
Qur'an!!" Oke, tapi ibadah yang seperti apa? Bisakah kita benar-benar
beribadah, tanpa mengetahui maknanya? Atau lebih jauh lagi, mampukah ia
menjangkau makna Qur'an?

Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika qur'an benar,
mengapa kegelisahannya tidak hilang? Mengapa qur'an seperti kitab suci
yang tidak teratur susunannya? Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat,
dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak? Jika kita beriman,
apakah iman itu? Apakah takwa itu? Apakah Lauhul Mahfudz? Apakah Ad-diin?
Apakah Shiratal Mustaqim? Jalan yang lurus yang bagaimana? Mengapa qur'an
terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya? Ini sebenarnya
pertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi qur'an.

Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal
qur'an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain
orang-orang yang disucikan/ mutahhiriin, (QS 56:77-79).

[Q.S. 56] "Sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat
mulia (77). Pada kitab yang terpelihara (78). Dan tidak menyentuhnya
kecuali hamba-hamba yang disucikan/ muthahhiriin (79)."

Apakah dia berani yakin bahwa dia adalah seorang yang telah
disucikan, sehingga makna qur'an telah terbentang begitu jelas
dihadapannya? Jika demikian, apa gunanya pernyataan : "Semua jawaban
telah ada di Qur'an" baginya? Apakah ia akan terus saja membohongi diri
dengan membaca terjemahan qur'an dan memaksakan diri meyakini bahwa ia
telah mendapatkan maknanya?

Jeritan jiwanya tersebut ia timbun dengan segala cara. Ia tidak
ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang
semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah
potensi pencariannya akan kebenaran. Padahal seharusnya 'jeritan jiwa'
tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita
akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita
akan berhenti menangis dengan sendirinya? Bukankah seharusnya kita
mencari tahu, kenapa anak kita menangis?

Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun,
sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari
dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnya
ada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak
terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan
yang lebih besar lagi.

Ia dipaksa-Nya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai
jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa
ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh,
dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataan
bahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil,
keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil. Pada saat
ini, pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya.
Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang.
Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia
terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa
dirinya sebenarnya.

Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting
bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah
dengan air kegalauan: "Siapa diriku sebenarnya?".

Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan
sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang
pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah
ta'ala, yaitu Nabi Syu'aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput
Musa dan membawa Musa kepadanya.

Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya
"arafa nafsahu", untuk "arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri". Dan dengan
bimbingan Syu'aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah
'arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa
Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali
misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah
menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang
disabdakan oleh Rasulullah SAW: "Setiap orang dimudahkan untuk
mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu." (Shahih Bukhari no.
2026)

Maka dari itu, sahabat-sahabat, jika ada diantara anda yang mungkin
ingin sekali bertemu seorang guru sejati, atau seorang mursyid yang Haqq
untuk minta bimbingannya, maka terlebih dahulu anda harus benar-benar
mencari Allah, mencari kebenaran, mencari Al-Haqq. Pertanyaan "Siapakan
aku? Untuk apa aku diciptakan?" harus benar-benar telah tumbuh dalam diri
kita (dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan
berhasil). Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan itu. Jika tidak demikian, atau jika belum merasa
benar-benar membutuhkan, percayalah, tidak akan ada seorang mursyid
sejati yang akan mengutus anak-anaknya untuk menjemput anda.

"Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa rabbahu", bukan semata-mata
artinya "siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya." Kata "
'Arafa", juga "Ma'rifat," berasal dari kata 'arif, yang bermakna
'sepenuhnya memahami', 'mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya';
dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata 'nafs', salah
satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).

Jadi, kurang lebih maknanya adalah "barangsiapa yang 'arif
(sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan 'arif pula
akan Rabbnya". Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah,
hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu.

Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu 'arif akan Rabb kita,
maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas 'Ad-diin'.

'Arif akan Rabb, atau dalam bahasa Arab disebut 'Ma'rifatullah'
(meng- 'arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah –awal–
perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan
orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang
terkenal: "Awaluddiina ma'rifatullah", Awalnya diin adalah ma'rifat
(meng-'arif-i) Allah.

Sejarah Syekh Siti Jenar

Sejarah Singkat Syekh Siti Jenar

Oleh :

M. Thoyib HM


Saat Pemerintahan Kerajaan Islam Sultan Bintoro Demak I (1499)

Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.
Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali. Siti Jenar dianggap telah merusakketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri).

Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam.

Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar. Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.

Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon.

Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.

Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar.

Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:

Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya;

Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya;

Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah;
Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia;

Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera;

Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya;

Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru;

Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa :

Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah;

Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan;

Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi;

Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia;
Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.

Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa :

Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata;

Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan;

Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.

Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian.

Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.

Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif). Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).

Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi.

Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).
Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar).

Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran.

Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa. Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri.

Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini.

Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela. Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci.

Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya.
Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”.*

Sidang para Wali

Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad. Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba,mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya.Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar. Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya. Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar,tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri paham Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaika di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M. Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie.

Pedah punapa mbibingung,
Ngangelaken ulah ngelmi,
NJeng Sunan Giri ngandika,
Bener kang kaya sireki,
Nanging luwih kaluputan,
Wong wadheh ambuka wadi.
Telenge bae pinulung,
Pulunge tanpa ling aling,
Kurang waskitha ing cipta,
Lunturing ngelmu sajati,
Sayekti kanthi nugraha,
Tan saben wong anampani.
Artinya:
Syeh Siti Jenar berkata, untuk apa kita membuat bingung, untuk apa kita mempersulit ilmu? Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar,karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya.
Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.

Ngrame tapa ing panggawe
Iguh dhaya pratikele
Nukulaken nanem bibit
Ono saben galengane

Mili banyu sumili
Arerewang dewi sri
Sumilir wangining pari
Sêrat Niti Mani

. . . Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah.

Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita.

Kinanti

Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti.
Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi.
Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani.
Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika,neng kaanan ênêng êning.

Makalah Ana Al - Haq

Islam Sempurna Atau Islam Syirik
oleh :
M. Thoyib HM


LAA ILAAHA ILLAALLOH ada 12 huruf,

MUHAMMADAROSULULLOH ada 12 huruf,


Muhammad lahir di tanggal 12,
Muhammad meninggalkan dunia di tanggal 12,



Siang 12 jam,
Malam 12 jam,
Satu tahun 12 bulan,



Ijinkanlah di nomer yang ke dua belas ini aku bicara masalah CINTA,

Ada tujuh tahap yang mungkin akan kau lalui menuju CINTA,

1.Tahu

2. arofu.......mengenal

3. Qorib...dekat

4. Aqrob....lebih dekat

5. rindu...

6. Kasih sayang

7. Cinta



"Awaluddin Ma'rifatulloh",

awal-awalnya orang beragama adalah Mengenal Alloh,

bagi orang yang sekedar tahu,

belumlah dapat dikatakan beragama,

maka Ketika dia sudah Ma'rifatulloh,

mengenal tentang Alloh,

barulah dikatakan beragama,

Bagaimanakah setelah mengenalNya??,

Bagaimanakah supaya dekat ??,

Alloh memang dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita,

"Wananhnu aqrobu ilaihi min hablil warits",

maka perbanyaklah mengingat DIA,

"Dzikron katsiron",



apakah cukup itu saja kamu kerjakan ??,

mengingati DIA, memperbanyak mengingati DIA,

adalah jalan menuju ke aqroban,

menuju yang lebih dekat lagi,

terus menerus, terus menerus,

sampai satu ketika,

kerinduan akan datang kepadamu,

Dan bagi orang-orang yang merindu,

jika disebut namaNya saja,

akan bergetarlah hatinya.

Apa yang diperintahkan oleh yang dirindukan, pastilah dikerjakannya,

dan apa yang dilarang oleh yang dirindukan, pastilah dijauhi-nya,



Kemana engkau menghadap,

yang tampak adalah yang wajah yang engkau rindukan,
Tapi sudah sampaikah orang yang merindu,
ketika rindu berubah menjadi Kasih sayang,
Lihatlah Nabimu,
YESUS kata mereka,
Isa kataku,

ahli masalah Kasih Sayang,

ketika Ruhul Kudus sudah engkau tinggalkan,

dan engkau meneruskan perjalanan,



maka sampailah kamu,

ketika yang ada kebingungan dan kebingungan,

ISTIGHROK !!!

tenggelam dalam lautan cinta,



Jalaluddin rumi mengatakan "Aku Orang Tuhan",

Abu Yazid berucap,"Ana Alloh",

Al Halaj berteriak,"Ana al Haq",

Bukankah itu semuanya omongannya orang bingung?????


Bagi pecinta, peduli apa mereka dengan yang lainnya,

yang tampak di mata adalah YANG DICINTAI,


melihat kekiri yang tampak DIA,

melihat kekanan yang tampak DIA,

melihat ke atas yang tampak DIA,

melihat kebawah yang tampak DIA,

melihat kedirinya sendiri yang tampak DIA,



he..he..he...

aku jadi teringat sebuah lagu,

yang merusak akidah islamiyah,



he..he..he..

Aku makan ingat kamu,

Aku kerja ingat kamu,

Aku tidur ingat kamu,



Dasar...lagu Cinta.......



oohhhh......

tengelamlah.....tenggelamlah....

dalam kebingungan seorang pecinta......



ooh.....tuangkanlah segelas arak dalam pialaku,

biarkanlah kureguk anggur cintaMu,

'kan kunikmati setetes demi setetes rasa gundahku,

dan biarkanlah aku Mabok dalam pelukanMu,



hu....hu......hu........hu.......hu......hu......hu....





I will temporarily conclude the writing of my journey in this no. 12,



LAA ILAAHA ILLAALLOH consist of 12 letters,

MUHAMMADARROSULULLOH consist of 12 letters,



Muhammad was born on 12,

Muhammad passed away on 12,



Daytime is 12 hours, night is 12 hours, one year 12 months.



Allow me in this no. 12 to talk about LOVE,



There are seven stages possibly you will pass through towards LOVE,

1.. Cognizant
2.. arofu . know
3.. Qarib.. Close by
4.. Aqrab. closer
5.. Yearning.
6.. Compassion
7.. Love


"Awwaluddin ma'rifatullah",

The beginning of religious person is Knowing Allah,



For those who just cognizant, can't be said religious yet,

Only when he has Ma'rifatullah, Knowing about Allah, then he can be said
religious,

What would it be after knowing HIM??

How is it to be close by??



Allah indeed is close by, even closer than our jugular vein,

"Wanahnu aqrobu ilaihi min hablil warits",

So give increase in remembering Him,

"Dzikron katsiron",



Is it enough for you to do??

Remembering Him, give increase in remembering Him,

Is a way towards the closing by, towards the closer, and on and on.



Until one time, the yearning will come to you.

And whoever is yearning, if His name is mention, His heart will tremble.

Whatever is ordered by the One is yearned for, surely he will do.

And whatever is prohibited by the One who is yearned for, surely he will avoid.



Wherever you are heading, what appear is the face of one you yearn for,



But has he the one who yearn reached the destination???



When yearning change into compassion,



Look at your prophet,

JESUS they called him,

Isa I called him.



The expert of compassion,

When the Holy Spirit have been left behind,

And you continue the journey,



Then you will arrive,

What remains is confusion and confusion,

ISTIGHROK!!!

Drowning in the ocean of love,



Jalaluddin rumi said, "I am Man of God"

Abu Yazid said, "Ana Allah",

Al Hallaj outcry, "Ana al-Haq",



Aren't those are the saying of confused person???



For the lover, who cares about others?

What visible in the eyes is THE LOVED ONE,



Look to the left what visible is HIM,

Look to the right what visible is HIM,

Look up what visible is HIM,

Look down what visible is HIM,

Look to himself what visible is HIM,



He. he. he.

I then recall a song,

Which damaged aqidah islamiyah?



He. he. he.



I eat and remember you,

I work and remember you,

I sleep and remember you,



Is like that.. Love song...



Ooohhhh..

Sink.. Sink..

Into the confusion of a lover..



Ooh. pour a glass of wine into my cup,

Let me drink YOUR wine of love,

Let me enjoy drop by drop of my despondent and let me intoxicate in YOUR embrace



Hu. hu. hu. hu. hu. hu..

Pendidikan Sufi

Makalah Risalah Tauhid
Oleh :
M. Thoyib HM


“Syuhudul Katsrah Fiil Wahidah”
Artinya “ Pandang yang banyak didalam yang satu ”, artinya pandangan Allah kepada Muhammad pandangan Muhammad kepada Adam, pandang adam kepada Muhammad atau ummat.
Karena Muhammad itu mengandung rahasia Tuhan kita dan tuhan kita mengandung rahasia Muhammad., maka nabi itulah dititahkan tuhan kita menjadi nyawa sekalian ummanya, sekalian manusia badan Tuhan kita Azza wa Jallah yang sebenar-benarnya, sesuai dengan penjelasan Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan sebagai berikut :
Maa Zhahiratu Fii Syaiin Wa Zhahiratu Fiil Insan “.
Tidak pada sesuatu nyataku pada manusia, adapun seperti manusia itu rahasiaku dan aku adalah rahasianya”. Muhammad itu rahasia adam, dan aku adalah Rahasia Allah SWT. Dan Muhammad itu juga yang menjadi tubuh Allah dan merupakan juga tubuh sekalian yang bernyawa, maka itulah dia kuasa kepada Tubuh, dia juga bernama Muhammad SAW, dan dia juga bernama Zat juga bernama (Al – Fatihah) dia juga bernama Ummul Kitab dan dia juga bernama Al-Quran dan dia juga bernama Rahasia Allah, dan Muhammad, Al – Fatihah itu juga dinamakan Zhahir dan Bathin Al – Quran Karim.
Al – Fatihah itulah tempat orang mengenal dalil Al – Quran 30 juz, semua berhimpun kepada fatiha , artinya Iman Rasulullah SAW. Maka jikalau kita belum ketahui artinya fatihah itu belum sempurna kita mengerjakan perintahnya, atau mengerjakan kifayah, atau mengerjakan kifarat, atau mengajarkan orang ngaji atau fitrah atau sadaqah dan tidak terima Allah sekalian doanya, maka tiada kenal Fatihah berarti Tiada Kenal dengan Tuhannya.

Selasa, 25 Desember 2007

PERMULAAN KALIMAH

ARTIKEL PERMULAAN KALIMAH
Oleh :
M. Thoyib HM


Adalah “ Bismillahirrahmanirrahim”
Adapun huruf yang dijadikan atau dilahirkan Allah swt yang pertama-tama adalah huruf (….) karena hurut itulah yang permulaan dijadikan oleh Allah swt sekalian ala mini. Adalah huruf (BA). Maka dengan huruf BA inilah menjadikan Nabi, maka cahaya Nabi itu selama (6000tahu) cahaya itu dilimpahkan kepada Muhammad, baharulah menjadi hruf (ALIF), dan Muhammad itulah menjadi peringatan kepada kita didalam tubuhnya Adam, maka adam itulah yang zhahir didalam ala mini, adapun peringatan kita itu menjadi bhatin Adam sebenar-benarnya, dan peringatan kita menjadi tubuh yang zhahir dalam alam yang zhahir.
Firasatan itu menjadi bhatin, dan firasatan itu menjadi tubuh Tuhan kita yang zhahir, Tuhan kita bhatin sebenar-benarnya. Tuhan itu tempatnya didalam syir Allah, itulah dia kuat dan kuasa didalam syir. Maka tuhan kita inilah yang bernama : Huwal awwal – Huwal akhir – Huwaz zhahir – Huwal bhatin. “ Tuhan yang awwal – Tuhan yang akhir – Tuhan yang zhahir – Tuhan yang bhatin. Maka menjelaskan lagi dalil yang menyatakan :
“Syuhudul wahidah fiil katsrah”.
Artinya : Pandang yang satu didalam yang banyak.
Dalil ini menunjukkan antara Allah dengan hamba ibaratkan antara Tuhan Azza wa Jalla dengan Muhammad, ibaratkan lagi seperti matahari dengan panasnya, sehubungan dengan itulah yang dimaksud badan Tuhan itu menjadi nyawa Muhammad yang sebenar-benarnya, adapun Tuhan Azza Wa Jallah itu didalam Muhammad, maka Muhammad itu nyawa Adam, justru itulah Muhammad itu nyawa sekalian ummatnya adalah merupakan juga nyawa sekalian alam ini. Karena dari itulah Allah ghaib kepada Muhammad, dan sebaliknya Muhammad ghaib kepada Allah, karena itulah dia Tuhan sendirinya. Maka itulah nyawa Allah dan Allah itulah nyawa Muhammad dan nyawa Muhammad itu juga nyawa Adam sampai turun – menurun kepada ummat seterusnya.

Ujudnya Allah SWT

Makalah Ujud Allah Risalah Tauhid
Oleh
M. Thoyib HM


Ujudnya Allah SWT yang terdiri daripada 7 Bahagian diantaranya :
1. Diri yang terdiri sendirinya
2. Diri yang terperi
3. Diri yang terjeli
4. Diri yang Ma`rifat
5. Diri Tauhid
6. Diri Islam
7. Diri Iman
Termasuklah didalam kalimah Tauhid yakni :
a. Tauhid Zat
b. Tauhid Sifat
c. Tauhid Asma`
d. Tauhid Af`al
Makna Badan
1. Badan Allah itu menjadi firasatan kepada kita, yakni tuhan Azza wa Jalla
2. Badan Nabi itu menjadi Peringatan kepada diri kita ini
3. Badan Muhammad itu menjadi nafas pada diri kita
4. Badan Adam itu menjadi tubuh pada kita, kulit daging, tulang dan dada.
Seperti Firman Allah SWT dalam Hadist Qudsi :
“Ana Baathinu Abdii Fahuwa Rabbi – Azharu Rabbi fahua Abdii.”
Allah rahasia hamba maka rahasianya hamba adalah Allah – nyatanya Allah maka nyatanya didalam Hamba.
1. Penjelasan Tentang Badan Tuhan
Badan Tuhan yang menjadi firasat kepada kita, yang berasal dari pada ruh qudus, merupakan rahasia kepada kita rahasia kepada Allah, rahasia itu didalam ubun-ubun menjadi akal kepada kita menjadi zat kepada tuhan yang merupakan ma`rifat maqam daripada insan kamil, kesempurnaan daripada makhluk – makhluk lainnya, Pangkat Rasulullah didalam dunia, raja didalam akhirat kelak, menerangi alam dunia dan menerangi alam akhirat, kaya didalam dunia dan kaya didalam akhirat, bertemu Allah didalam dunia dan bertemu Allah diakhirat. Maka daripada itu didalam mengambil kesimpulan, yakin dan renungkanlah tentang diri kita masing-masing sesuai dengan penjelasan yang telah diungkapkan oleh Allah sebagai berikut :
Bermula melihat Tuhan itu didalam dunia ini terlebih nyata daripada melihat Allah didalam akhirat. Yang dikaitkan didalam firman Allah Sebagai berikut :
“Dan mengapa engkau tidak melihat akan daku dan bersertamu, itulah sebagai tindak bagimu”.


2. Penjelasan Tentang Badan Muhammad
Menjadi diri tauhid yang berasal dari Ruh Rubani berada didalam jantung alam jabarut menjadi nafas bagi diri kita, merupakan shifat bagi Allah atau pekerjaan baik yang merupakan nafsu bagi diri kita masing-masing
Nafsu itu terbagi atas empat nafsu
a. Nafsu Amarah yakni nafsu segala syaithan
b. Nafsu Sawiyah yakni nafsu segala binatang
c. Nafsu luwwamah yakni nafsu segala malaikat
d. Nafsu Muthmainnah yakni nafsunya Nabi SAW
Maka dari itu nafsu yang terbaik dan termulia adalah nafsu muthmainnah, nafsunya nabi Muhammad saw, justru dari itu jadikanlah nafsu kita ini dengan nafsu tersebut atau apabila ingin mendapatkan keridhaan dari Allah SWT sesuai dengan keterangan firman Allah didalam Al-quran yang menjelaskan yang artinya sebagai berikut :
“ Wahai hati yang tenang kembalilah engkau kepada Tuhan dengan ridha dan di ridhai”.
3. Penjelasan Mengenai Badan Adam
Menjadi diri islam – iman – tauhid dan ma`rifat yang berasal dari ruh nurani, menjadi pada diri bagian kulit – daging – tulang – dan darah dan juga menjadi qudrat, iradat, ilmu, hayat bagi Allah dan merupakan rahasia yang tersembunyi yang dapat diketahui oleh Wali Allah dan Arif billah dan bagi orang yang dianugrahi oleh ilmu dari Allah, maka dari itu jangan sak atau ragu dalam mengambil suatu keputusan didalam bertauhid kepada Allah, Nabi bersabda yang artinya :
“ Pikirkan oleh mu pada segala yang dijadikan Allah dan jangan kamu pikirkan pada diri Zat Allah”.
Dan dijelaskan lagi sabda Nabi yang artinya sebagai berikut :
“Barangsiapa melihat sesuatu padahal tiada melihat Allah didalamnya maka ia itu sia-sialah penglihatannya.”.
Maksud Hadis ini, pandangan Tuhan sekalian ummatnya Haq aku semuanya dan pandangan hambaku pada tuhannya jangan diberi dua pandangan semata-mata hanya satu pandangan saja. Maka kesimpulan yang sebenar-benarnya dalam pandangan ibaratkan pandangan tuhan hanya dengan firasatan sedangkan pandangan nabi itu pandangan dengan peringatan, pahamilah dengan sebaik- baiknya jangan sampai salah paham.

Sabtu, 22 Desember 2007

Permulan Manusia

Artikel Permulaan Manusia

Oleh :

M. Thoyib HM



Adapun permulaan kita dijadikan Allah SWT yang berasal dari empat buah kitab

1. Kitab Wadu

2. Kitab Wadi

3. Kitab Mani

4. Kitab Ma`nikam

  1. Wadu itu asalnya menjadi tubuh kepada kita Kitabnya bernama Jallah (Taurat) Nabinya Musa AS diturunkan pada malam keenam bulan ramadhan, jaraknya antara Shuhub Nabi Ibrahim AS 700 Tahun. Sedangkan kalimahnya, kalimah Nafi, pujinya Laa Ilaha Illallah.

“ Dia mengakui tiada tuhan yang wajib disembah melainkan Allah SWT ”.

  1. Wadi itu asalnya menjadi hati kepada kita kitabnya Zabur nabinya Daud AS diturunkan pada 21 Ramadhan, jaraknya antara kitab Taurat selama 500 tahun, sedangkan kalimahnya, kalimah Munfi pujinya kalimah Munfi Allah – Allah – Allah – Allah.
  2. Mani itu asalnya menjadi nyawa kepada kita kitabnya bernama Injil, nabinya Isa AS diturunkan pada 12 bulan Ramadhan. Jaraknya antara kitab Zabur selama 1200 Tahun, sedangkan kalimahnnya, kalimah Isbat, pujinya kalimah Isbat Hu Allah – Hu Allah – Hu Allah – Hu Allah.
  3. Ma`nikam asalnya menjadi Peringatan kepada kita Kitabnya bernama Furqan (Al-Quran), nabinya Muhammad Rasulullah SAW, diturunkan pada 27 Bulan Ramadhan, jaraknya antara kitab Injil selama 600 tahun, sedangkan kaimahnya Kalimah Misbat, pujinya kalimah Misbat adalah Alif – Alif – Alif – Alif.

Awal Kejadian Manusia

Awal Kejadian Manusia

Oleh :

M. Thoyib HM


Hidup itu ada sendirinya : Ganah Namanya hidup itu berdiri dengan sendirinya Zat semata-mata namanya kala hidup itu dia sendirinya La Ta`yun akan namanya sudah itu tatkala cahayanya ada pada ubun-ubun Bapak Tuftha Ghaib akan namanya. tatkala turun daripada ubun-ubun bapak Fha`asat Allah akan namanya tatkala tetap/sabit didalam dada bapaknya : Syiir Allah akan namanya, tatkala tersembunyi Kunta Kannan Mukhfiyan namanya tatkala zhahir kepada pusat bapaknya : Hidup Mati akan namanya, tatkala luruh didalam Qalam bapaknya Ma`nikam akan namanya diujung Qalam bapaknya Tuhfah akan namanya, jatuh didalam rahim ibunya Alif Allah akan namanya, sehari semalam didalam rahim ibunya Allah akan namanya Hu akan pujinya artinya Hu itu hidup serta zatnya tiga hari tiga malam di dalam rahim ibunya Nur Allah akan namanya Haq akan pujinya, artinya hidup serta cahayanya , tatkala tujuh hari tujuh malam didalam rahim ibunya Syuun akan namanya Inna Lillah akan pujinya artinya hidup serta rasanya empat puluh hari empat puluh malam didalam rahim ibunya Rasulullah dan juga Siiru Maadain namanya. Subhanallah akan pujinya, artinya hidup itu serta nafsunya, tujuh bulan didalam rahim ibunya, Insan Kamil akan namanya Allahu Akbar akan pujinya, tatkala sudah lengkap didalam rahim ibunya Fayakun Haq namanya, sembilan bulan didalam rahim ibunya Adam namanya La ilaaha Illallah akan pujinya, artinya hidup, sembilan bulan sepuluh hari manusia atau Shalih Mukmin namanya Alhamdulillahi rabbil `Alamiin akan pujinya, baharulah nur itu hidup serta dengan nyawa, diapun menangis Dalilullah akan namanya. apabila nur itu sudah tahu merangkak Jamalullah akan namanya, apabila nur itu sudah tahu berjalan baharulah Muhammad Rasulullah SAW jika sudah sempurna Akalnya Nur Muhammad itu baharulah dia bernama Ruh Idhafi karena Nur Muhammad itu keluar daripada Ruh Rasulullah maka Nur Muhammad itu zat Rasulullah SAW itulah yang dinamakan permulaan dan kesudahan, sesuai dengan pernyataan : Huwal Awwalu wal Akhiru Wa Zhahiru Wa Bhatin. "Dia yang Awal dia yang akhir dan dia juga yang nyata dan juga tersembunyi".

Rabu, 19 Desember 2007

Awal Kejadian Manusia

Awal Kejadian Manusia

Oleh :

M. Thoyib HM


Bismillahirrahmanirrahim

"awwaluddin Ma`rifatullah". permulaan agama itu mengenal Allah
1. Permulaan kita dijadikan Allah SWT
sebelum Allah menjadikan bumi dan langit, Arasy, kursi, laut dan darat, neraka dan surga. Allah bersabda tatkala Allah melimpahkan cahaya daripada sir dirinya nuraninya :
" Al-insan syiirihi wa syirihi wa shifatihi". manusia itu rahasiaku dan aku rahasia adalah rahasianya.
maka Allah yang berdiri sendiri lagi bersatu dengan sendirinya. maka barulah Tuhan berwasiat kepada nabi "wahai Kekasihku inilah nama engkau yang lahir daripada ku " Syirullahi payakuun" wahai kekasihku inilah namaku (...) maka barangsiapa tahu akan namaku disurgalah tempatnya, maka dari itu ketahuilah olehmu. adapun hidup itu tiada lawannya. hidup itu belum awal, hidup itu ghaib, ghaib hidup itu tiada lawannya, hidup itu belum zhahir, namanya, hidup itu tiada dengan sesuatu, hidup itu belum Laiilaahazhahir miskillah namanya, hidup itu tiada dengan rupanya. hidup itu belum Qadim Haq Muthlaq akan namanya, hidup itu belum Muhdats haq subhana ta`ala akan namanya, hidup itu mahasuci adanya, hidup itu tersembunyi Wajibul Guyub namanya

Senin, 26 November 2007

Makna Ana Al-Haq

Artikel Ana Al Haq
Oleh :
M. Thoyib HM


MUNGKIN ada di antara kita yang masih tertanya-tanya : "Kalau begitu mengapa pula Al-Hallaj telah dijatuhkan hukuman mati???

Barangsiapa mengenal sejarah Islam, pasti mengenal kata-kata "Ana Al-Haq". Kata-kata ini sendiri, sebenarnya sudah menggoda keawaman, apalagi kesolehan seorang Muslim.

Terlebih lagi ketika ia terkait pada riwayat dan kisah-kisah Mansur Al-Hallaj seorang Sufi besar.

Pada abad ke-14 ahli Sufi terkenal Al-Hallaj, iaitu Abu al-Mughith al-Husain ibn Mansur al-Hallaj, lahir pada 858 Masihi di Tur, Iran dan meninggal dunia (mati dipancung) di tiang gantungan pada 26 Mac 922 di Baghdad, di tepi sungai Euphrat, tempat mengalir bukan hanya sebahagian peradaban Islam, tetapi juga sebahagian peradaban dunia kita ini. Dibunuh kerana dituduh murtad dan kafir.

Dia pada mulanya mendapat pengiktirafan daripada Ulama' sezamannya. Ini kerana beliau seorang pengibadat yang sangat handal. Beliau seorang yang kuat sembahyang (solat) dan sentiasa berpuasa setiap masa.

Tetapi apabila beliau mendakwa bahawa dirinya adalah hak, beliau dipandang serong dan kafir oleh beberapa ramai Ulama'.

Beliau berkata : "Saya adalah Haq", di mana di dalam bahasa Arab disebut "Ana Al-Haq" atau disebut dalam bahasa Inggeris "I am the truth". Ungkapan itu ditafsirkan bahawa beliau menganggap zat Allah berada dalam diri.

Dengan berfalsafah sebegitu rupa, Al-Hallaj dipenjara dan disebat. Beliau kemudian disalib selepas dipotong tangan dan kakinya. Malah mayat beliau dibakar dan abunya dihanyutkan ke sungai Dajlah. Sedang kepalanya dibawa ke Khurasan untuk selanjutnya dipersaksikan oleh ummat, Islam dan sejarahnya.

Begitulah kekuasaan, masa itu, dinasti Abbasiah memuas dirinya dengan kematian Mansur Al-Hallaj.

Seorang lagi Sufi besar iaitu Syeikh Al-Syibli berkata bahawa meskipun beliau sendiri dan Abu al-Mughith al-Husain mengeluarkan kata-kata yang sama (Ana Al-Haq), tetapi beliau dibiarkan begitu sahaja kerana orang menyangkanya gila, tetapi Abu al-Mughith al-Husain disalib kerana orang menganggap dia bukan gila dan bijak pula.

Mansur Al-Hallaj, menerima pendidikan dan asuhan pertamanya daripada 'Alim Sahal Ibn 'Abdullah seorang Sufi besar yang terkenal.

Sesudah menguasai berbagai cabang pengajaran, yang religius dan intelektual, ia mengembalikan perhatiannya kepada Sufisme. Di sinilah ia menerima pengolahan rohaniah Syeikh Abul Hussain Al-Nuri, Syeikh Junaid Al-Baghdadi dan Syeikh Umar Ibn Uthman.

Dan adalah dari gurunya yang terakhir, Al-Hallaj yang tersohor itu menerima suatu alamat yang semakin berkembang sedemikian kuat dalam dirinya, sehingga ia mulai dengan gelap mata mengucapkan hal-hal yang memperkosa perintah-perintah syariat. Gurunya telah beberapa kali melarang Al-Hallaj mengucap ucapan-ucapan yang bertentangan dengan syariat itu, tetapi sia-sia; sehingga Al-Hallaj akhirnya diperintahkan meninggalkan perguruannya itu.

Begitulah Al-Hallaj meninggalkan Basra dan kembali ke Baghdad, masuk kembali ke perguruan (khanqah) Syeikh Junaid Al-Baghdadi. Tetapi juga di sini Al-Hallaj mulai lagi mengucapkan ucapan-ucapannya yang mengungkapkan rahsia Ketuhanan walaupun ia telah dilarang gurunya.

Pada suatu hari Syeikh Junaid berkata,

"Hei, Mansur, tidak lama lagi, suatu titik dari sebilah papan akan diwarnai oleh darahmu!"

"Benar", kata Al-Hallaj, "Tetapi dalam hal yang demikian, engkau juga akan melemparkan pakaian Kesufianmu dan mengenakan pakaian Maulwi - Ana Al-Haq". Kedua ramalan itu secara harafiah menjadi kenyataan.

Pada suatu hari Al-Hallaj benar-benar dirangsang oleh api cinta Ilahiahnya dan ia kembali meneriakkan "Ana Al-Haq". Dan begitulah ia terus, sering tanpa henti. Gurunya, Syeikh Junaid dan teman-temannya seperti Syeikh Al-Syibli dan lain-lainnya menasihati Al-Hallaj agar menahan hati, namun tetap tidak mempan. Al-Hallaj terus saja dengan seruan-seruannya "Ana Al-Haq" pada waktu-waktu istirehat. Lalu bangkitlah kaum Ulama' syariat melawan Al-Hallaj dengan mendapat dukungan dari Hamid Ibn Abbas, Perdana Menteri (PM) wilayah Baghdad dan akhirnya malah mengeluarkan "Fatwa Kufur", menyatakan bahawa Al-Hallaj secara hukum dapat dihukum mati.

Ketika keadaan yang sebenarnya itu akhirnya diajukan untuk mendapat persetujuan Khalifah Muqtadir-Billah, beliau menolak memberikan persetujuannya. Kecuali, kalau Fatwa itu ditandatangani oleh Syeikh Junaid Al-Baghdadi. Fatwa itu kemudiannya enam kali dikirim kepada Syeikh Junaid, tetapi kembali tanpa tandatangannya. Khalifah, untuk ke tujuh kalinya mengirimkan Fatwa itu disertai permintaan khusus agar ia menjawab "ya" atau "tidak". Menghadapi hal itu, guru yang besar itu membuang pakaian Kesufiannya, dan mengenakan jubah ke-Ulama'-annya ia menulis pada surat jawabannya :

"Menurut hukum syariat, Al-Hallaj dapat dijatuhi hukuman mati; tetapi menurut ajaran-ajaran rahsia kebenaran, Tuhan adalah maha tahu!".

[Irshadat : Syeikh Muhammad Ibrahim, Iran - Mempunyai nama jolokan, "Gazur-i-Ilahi" (the washerman of God - tukang cuci Tuhan)]

Diceritakan bahawa Al-Hallaj sebelum disalib, beliau bersembahyang (solat) dan berdoa dengan berkata :

"Mereka adalah hamba yang berhimpun, sangat dahaga untuk membunuh ku kerana agama Kau, dan untuk mendapatkan keredaan Kau, maka ampunkan mereka wahai Tuhan ku, dan memberi rahmat kepada mereka, kerana jika Kau membuka kepada mereka seperti Kau membuka kepada ku, mereka tidak akan melakukan seperti yang mereka sedang lakukan sekarang, dan jika Kau tutup pada ku seperti Kau tutup pada mereka, aku tidak akan menghadapi malapetaka ini, baiklah apa
yang Kau lakukan dan baiklah apa yang Kau mahukan."

Begitulah berakhirnya hidup Al-Hallaj dan beberapa Ulama' dan ahli Sufi lain yang hidup dalam abad ke-8 sehingga ke abad ke-14.

Tentang kes Al-Hallaj ini bukanlah menjadi rahsia lagi. Kisahnya telah diketahui umum. Ia mempunyai kekuatan dan daya tarikan yang menjadi tumpuan orang ramai di mana-mana ia berada. Seperti ahli-ahli Sufi yang lain beliau mengasihi keluarga Rasulullah SAW. Pada ketika itu keluarga Rasulullah SAW, bercita-cita untuk mengambil semula kuasa pemerintahan. Golongan Bani Abbas sudah pasti tidak merasa senang terhadap setiap tokoh seperti yang ada pada Al-Hallaj yang memberi sokongan dan simpati sepenuhnya kepada keluarga Rasulullah SAW. Oleh kerana di'ayah beliau begitu kuat tersebar luas, maka demi untuk menjaga "keamanan atau keselamatan negara" seperti yang selalunya dijadikan alasan oleh setiap yang tamakkan kuasa pastilah diambil tindakan segera.

Ramai Ulama' dituduh murtad apabila tidak sehaluan!

Kes Al-Hallaj yang menerima hukuman bunuh bukan sekali-kali bersebabkan kerana isu agama tetapi semata-mata kerana politik. Memang menjadi perkara yang amat mudah bagi pihak yang berkuasa secara kuku besi untuk memutarbelitkan kenyataan dan kedudukan kes yang sebenar, membawakannya ke muka pengadilan, serta membuktikannya dengan sebilangan besar para saksi dusta, bahkan boleh mempengaruhi dengan wang dan kedudukan untuk mencapai kehendak nafsunya. Demikianlah kes Al-Hallaj. Tidak ada kaitan pun dengan masalah agama, walaupun telah cuba dikatkannya. Semua kata-kata dan pendapatnya tidak ada dalam buku-buku atau kitab-kitab hasil dari tulisan tangan dan catitan penanya, dan setengah daripada kitabnya yang masih ada tidak menyokong dakwaan musuh-musuhnya.

Menurut neraca logik yang benar seorang jurubina tidak layak untuk memberi fatwa dalam bidang kajian perubatan atau ketabiban. Demikian juga seorang sasterawan dengan kesasterawannya tidak layak untuk memberikan fatwa dalam bidang senibina. Maka adilnya, tidaklah begitu mudah untuk membuat putusan hukum ke atas orang-orang seperti Ibnul 'Arabi, Al-Hallaj, Ibnu al-Farid, Hamzah Fansuri, Syeikh Sitijenar, kalau orang-orang itu bukan dari ahli yang setaraf dengan mereka.

Pernah dikatakan kepada seorang dari para guru yang soleh lagi dihormati bahawa : Si polan telah mengkritik Ibnul 'Arabi dalam sebuah majalah. Beliau mengatakan apakah layak seekor lipas untuk menilai amalan seekor singa? Memang ia tidak layak untuk menilai bahkan untuk memperkatakannya, kerana logik yang menjadi ukurannya adalah logik lipas.

Imam Al-Sya'rani sendiri menegaskan tentang kedudukan orang-orang yang memusihi Ibnul 'Arabi bahawa penilaian dan hukuman mereka adalah penilaian dan hukuman nyamuk yang cuba menghembus gunung dengan tujuan untuk meruntuhkannya. Yang lenyap dibawa angin ialah si nyamuk walau bagaimana banyaknya, si nyamuk itu sedangkan gunung akan tetap kukuh di tempatnya yang menjadi pengimbang putaran dunia ini.

Pendapat yang benar dan penuh insaf ialah pendapat Imam Al-Sya'rani tentang kedudukan ahli Sufi umumnya dan Ibnul 'Arabi khususnya :

"Demi umurku! Penyembah-penyembah berhala tidak berani untuk menjadikan Tuhan-Tuhan berhalanya itulah sebagai Zat Allah, sebaliknya mereka hanya mengatakan : "Kami tidak menyembahnya hanyalah semata-mata untuk menjadi perantaraan yang boleh memperdekatkan kami kepada Allah." Betapa pula Tasauf ialah akhlak. Sesiapa yang semakin bertambah akhlak bererti semakin bertambah kejernihan hatinya. Semoga Allah meredhoi mereka sekalian."

Biarlah kita sampai atau hampir sampai dahulu ke tarafnya, maka baharulah kita memberikan hukum. Maka hukuman kita itu nanti tidak akan berbeza dari hukuman para " Ulama'" salaf.

Di bawah ini saya sertakan petikan ucapan-ucapan Al-Hallaj yang melampaui (unnatural) daripada pemikiran manusia biasa.

Mansur al-Hallaj : Sayings
"ana'l-Haqq - I am the Truth."
(this is the saying which apparently earned al-Hallaj his martyrdom - al Haqq also means God)

Which means :
"Ana Al-Haqq - Aku adalah Kebenaran."
(ini adalah pengucapan yang menyebabkan al-Hallaj dihukum bunuh - al Haqq juga bermaksud Tuhan)

* "You know and are not known; You see and are not seen."
Which means :
"Kau tahu dan Kau tidak diketahui; Kau lihat dan Kau tidak dilihat."

* "Your spirit mixed with my Spirit little, by turns, through reunions and
abandons. And now I am Yourself, Your existence is my own, and it is also my will."

Which means :
"Semangat Engkau bercampur dengan semangat ku sedikit demi sedikit oleh pusingan (peredaran), melalui penyatuan semula dan perpisahan (tanpa rasa takut) dan kini aku adalah diri Mu, kebenaran Mu adalah aku sendiri dan ianya juga adalah kehendak ku (keupayaan).

* "I find it strange that the divine whole can be borne by my little human part, Yet due to my little part's burden, the earth cannot sustain me."

Which means :
"Aku mendapati suatu keganjilan yang seluruh kecintaan, boleh dilahirkan oleh tubuh ku yang kecil, sehinggakan disebabkan oleh bebanan yang kecil, bumi tidak dapat menanggung ku."

* "I have seen my Lord with the eye of my heart, and I said : "Who are You?" He said : "You.""

Which means :
"Aku telah melihat Tuhan ku dengan mata hati, dan aku berkata : "Siapa Kau?" Dia berkata : "Engkau.""

* "I do not cease swimming in the seas of love, rising with the wave, then descending; now the wave sustains me, and then I sink beneath it; love bears me away where there is no longer any shore."

Which means :
"Aku tidak berhenti berenang dalam lautan cinta, timbul bersama gelombang, kemudian turun ke bawah (go down). Kini gelombang menetapkan (support/maintain) aku, dan kemudian aku tenggelam dibawahnya. Cinta membawa aku pergi di mana tidak ada lagi pantai."

Kata-kata yang cukup simbolik dan "mencarik adat", serta di luar daripada pemikiran waras manusia biasa. Dengan penzahiran kata-kata sebegini jugalah beliau dituduh murtad dan kafir bagi mereka-mereka yang tidak sehaluan dengan fahaman dan aliran Sufismanya yang penuh dengan mistik tradisional.

Bagi saya ucapan-ucapan beliau ini "is not tangible", iaitu sesuatu yang tidak dapat dirasai oleh sentuhan. Tetapi ianya bukanlah khayalan dan terbukti kebenaran!

Saya juga tertarik dengan ulasan Syeikh Fariduddin 'Attar seorang ahli Sufi dari Iran, pengarang kitab Tazkiratul-Auliya', berkenaan dengan Al-Hallaj katanya :

"Alangkah sedihnya seorang Sufi yang agung ini (Al-Hallaj) tidak difahami oleh orang-orang sezamannya. Anda boleh hormati pokok jika ia berkata "Ana Al-Haq" (Akulah Yang Benar), tetapi kenapa seorang manusia yang menucapkan kata-kata itu disalib pula. Anda patutlah tahu bahawa perkataan seperti itu adalah diucapkan oleh orang-orang Sufi yang agung yang dalam keadaan "dzauk" (mabuk) Allah atau fana' diri, dan mereka berucap seperti itu melalui Allah. Atau dengan lain perkataan, Allah yang bercakap melalui lidah-lidah mereka. Diri mereka itu telah "mati"."

AKHIR sekali, kita boleh bertanya sekarang. Ada apa makna Mansur Al-Hallaj dengan "Ana Al-Haq" itu sampai naik ke tiang gantungan? Kekuatan apa gerangan yang telah menggebu Mansur Al-Hallaj? Kepentingan apa pula yang telah bermain sehingga pemerintah akhirnya membawa seorang Sufi sebesar itu ke tiang gantungan dan membakar mayatnya supaya ia pupus?

Jawapan terhadap pertanyaan tersebut, pertama-tama mungkin lebih bersifat sejarah, ketimbang yang lainnya. Tetapi tidakkah sejarah itu juga lautan Iman, ilmu dan hari depan?

Dapatkah Tuhan difahami tanpa sejarah?

Dapatkah Al-Quran, ilmu dan amalan berada di luar sejarah?

Wallahu ta'ala a'lam.......

Wassalamu.......

Ana Al-Haq

Artikel Ana Al - Haq

Oleh :

M. Thoyib HM




هرجا كه هست پرتو روى حبيب هست

انا الحق ... انا الحق ... دا ئې هغه غږ ؤ. دا ئې هغه نعره وه. خلقو به وېل که دې لېونې شوې دې. چا به وېل چې کفر وائي. چا پکښې اويل چې پانسي ئې کړئ ځکه چې دا کلمه، انا الحق، يواځې د الله زات له پاره دې. خبره خليفه مقتدر بالله (295-320هجري) ته اورسېده. خليفه د خلقو په وېنا عمل وکړو و دې ئې زندان کښ بندي کړو چې په خپل عمل باندې سوچ وکړي و په نېغه لاره راشي. د هغوئ مريدانو و نورو مشائخو هم ورته خواست وکړو چې دې کلمې نه منې شه خو هغه قرار نه شو. آخر هغه ته د مرګ سزا واوروله شوه.

د ذی القعده اتلسمې (18) نېتې، د 309 هجري کال کښ د منصور سزا باندې عمل وشو. ټول ښار د هغه سزا کتلو ته را غونډ شو. جلاد ته حکم وشو چې مخکښې به زر (1000) زله کوړې ور خلاسېدې شي و هغه نه روسته به سر ترې نه قلم کېږي. د خدائ قدرت ته ګوره چې تر آخري کوړې پورې منصور په سترګو کښ نه اوښکښې راغلې و نه خولې نه اوف قدرې اوتو. چې کله د سر قلم کېدو وار راغلې، نو جلاد ته بل حکم راغلې چې د سر نه مخکښې ئې ښپې و لاس پرې کړې شي.

خلقو کښې بې صبري راغله. يو تن منصور نه تپوس وکړو چې عشق څه ته وائي؟ منصور ورته وېل چې لږ وار پس به ئې په خپله ووينې. يو بل ترې نه تپوس وکړو چې ته دومره خوشحاله ولې ئې؟ دې ورته وائي زه خپل جانان ته روان ېم.

جلاد مخکښې ترې نه لاس پرې کړل. بيا ئې ښپې جلا کړې. چې کله ئې سر ته توره جږه کړه، منصور ناره کړه چې يه خدايه، چې څرنګه دې زه برکتي کړې يم، داسې دا خلق هم برکتي کړه. و دې سره هغه کار تمام کړې شو.

چې سر ئې زمکه ته پرېوتو، هغه ټول بې سا وجود نه انا الحق ... انا الحق ورد شروع شو. منصور خو لاړو، خو ناره ئې لا نړه. خلقو فيصله وکړه چې مړ وجود ته دې اور ورته کړې شي. شيخ فريد الدين اټار په خپل کتاب تزکره اولياء کښ وائي چې هغه بدن ته اور ورکړې شو و ايرې ئې د دجله درياب ته واچولې شوې. خدائ قدرت ته ګوره چې دې درياب کښې د اوبو سطح دومره اوچته شوه چې خلقو زړونو کښ ډار پېدا شو چې بغداد به اوبو کښې ډوب شي. او دا خبره وه چې يو کس راغلو و اعلان ئې وکړو چې زما شيخ مرګ بدله کښې به ستاسو بغداد ښار اوبو کښې ډوب شي.

حماد بن عباس هم په زړه کښ ډار جوړ شو. حماد د خليفه تر ټولو کښ اوچت وزير ؤ و هغه د منصور سزا تېرولو د پاره په خپله موجود و. د هغه کس ځان ته را نزدې کړو و تپوس ئې وکړو چې ته داسې ولې وائې؟ هغه اويل چې زمونږ شيخ فرمان دې چې يو داسې وخت به راشي چې زه به مړ کړې شم، بيا به زما وجود وسېزېدل شي، او بيا به ئې درياب ته لړه کړې شي ... درياب کښې به بيا سيلاب راشي و بغداد به پکښې ډوب شي. او که چرې ځما دستار اوبو ته لړه کړې شي نو سيلاب زور به تم شي. حماد هغه کس ته اوېل چې په منډه دې منصور دستار راوړي. چې کله اوبو ته ئې لړه کړه، په هغه سات اوبه کمې شوې. ټول خلق ئې په شش کښ واچول.

حسين منصور حلاج په بېضع کښ په 244 هجري کال پيدا شوې و. بيضع د ايران يو وړوکې غوندې ښاريه ده. دې په خپل پلار نوم باندې مشهور و ځکه چې هغه پلار اسلام قبول کړې وو و بيا ئې ايراق ته هجرت کړې و. په عربي ژبه کښې حلاج د ګډ وړۍ سکولوونکښي ته وائي. دا ئې دوئي ابائي روزګار و. د هغوئي سرچينې تعليم چا ته علم نيشته خو دومره پته ده چې منصور په شپاړس کاله عمر کښې له کور نه حق وصول د پاره اؤتو. دې ډير وليانو باندې وګرځيدو خو تسله ورته ملاؤه نشوه.

خدائ منصور ته ډير کرامات هم ورکړي ول. او دې کراماتو له وجه د ته مشکلات هم جوړ شوي ول. د به خلقو ته د زړونو حال وېل و په دې باندې خلقو دا وهم وکړو چې منصور خليفه مقتدر بالله پسې شوې دې چې هغه حکومت ړنګ کړي و په خپله خليفه جوړ شي. چې حماد بن عباس ته دا خبرې اورسېدې نو هغه د منصور ډير سخت دښمن شو ځکه چې هغه په خپله د خليفه توب عهدې ته پام و. هغه سازشونو شروع کړل چې په څه طريقه منصور نه ځان خلاص کړي.

شيخ منصور په 310 هجري کښې ونيول شو. شرعي عدالت هغه ته د مرګ سزا ورکړه خو خليفه وخت دا نه غوښتل چې دئ دې مړ کړې شي. په دې دوران کښې دوه قيصې وشوې چې زکر ئې ضروري دي.

يو ځل په زندان کښ منصور په زنځيرونو يو بند کمره کښې تړلې شوې و چې نا څاپه هغه نورو بنديانو مخته راغلو. ټول حيران شول چې دې خو بند و زمونږ مخته څرنګه راغلې. منصور ترې نه تپوس وکړو چې تاسو آزادېدل غواړې؟ بنديانو ورته وېل چې ته به مونږ څرنګه خلاص کړې چې ته په خپله باندې بند ئې. منصور ورته وېل چې دا کار ما له پرېږدې.... زه خو نه شم خلاصېدې ځکه چې زه د الله قېدي يم.

دې نه پس منصور د بنديانو ښپو ته اشاره کړه او دوئ ښپو زنځيران خپله مخه مات شول. بيا ئې ديوال ته اشاره کړه او ديوال کښې يو سورې جوړ شو. قيديانو منصور ته خواست وکړو چې دۍ دې هم دوئي سره ځان آزاد کړي خو منصور ورته وېل چې زما ازادي زما مرګ دې.


د حلاج مرګ

چې کله ټول بنديان وتښتېدل نو منصور خپل کمره ته راغلو. صبا ته چې سنتريان راغلل نو څه ګوري چې د قيد نه 300 بنديان تښتېدلي دي او د دوئ زنځيرونه او ديوالونه هر څه په خپل ځائ پراته دي. دوئي منصور نه تپوس وکړو چې دا 300 خلق چرته ورک شول؟ منصور ورته حق وېل چې دا ټول د په خپله آزاد کړي دي. چې حماد بن عباس ته پته ولږېده نو هغه د دې واقعه نه فائده واخسته و د قاضي نه ئې منصور خلاف د مرګ سزا واخستو.

دغه شان يو ځل حضرت عبد الله بن حفيف چې خپل زمانې ډير ستر شيخ و ولي پاتې شوې دې، هغه منصور ته په زندان کښې ملاويدو د پاره راغلو. حضرت صېب وائي چې کله به د لمانځه وخت راغلو نو منصور زنځيرونه به خپله مخه خلاص شول و منصور به اؤدس چاردام کولو نه پس په آرامه لمنځ وکړو. دوئي ترې نه تپوس وکړو چې ستا زنځيرونه خپله مخه خلاص شي نو ته خپل ځان ولې نه شې آزادولې؟ منصور ورته وېله چې ځه په زندان کښې بند نه يم و نه خپل تقدير نه يره کوم.

بيا هغه ورته وېل چې خپلې سترګې پټې کړه و د څه خواهش وکړه. حضرت وائي چې ما سترګې پټې کړې او چې بيا مې خلاصولې نو زه منصور سره په نشاپور (ايران) کښې ولاړ وم. وائي چې ما وړوکوالي نه ارمان ؤ چې زه نشاپور ته لاړ شم. منصور ترې نه تپوس وکړو چې نور څه غواړې؟ دوئي ورته وېل چې بس اوس مې بېرته واپس بوځه نو چې سترګې ئې بند و خلاصې کړې نو په زندان کښ بيا ناست وو.

چې سنتريانو نه حضرت تپوس وکړو نو دوئي ورته وېل چې په دغه سات کښ تاسو دواړه په کمره کښې نه وې بلکه ورک شوي وې.

دې دوه واقعاتو نه د شيخ منصور کراماتو اندازه لږېدلې شي. شيخ منصور عمر ډير خوار تېر شوې و. خلقو ډير تنګ کړې و. چا به ورته جادوګر، چا به کافر طعنه ورکوله. خو يو څو داسې کسان به هم ول چې دې به د الله په عشق کښ يو سرګردان کس ګڼلو و منله به ئې چې دې ډير اچت مقام ته رسيدلې کس دې. خو عام خلق به دې مقام په سر و لم نه پوهېدل. د انا الحق کلمه باندې خو به څوک پوهېدل نه، او که څوک په پوه شوي هم ول، دوئي به په لاس کښ د دوئي شخصيت لوبوله چې خلقو کښې انتشار خور شي. حضرت علي هجوېري رح په خپل کتاب کشف المعجوب کښ د شيخ منصور حلاج لورې کړې دې او دا زکر ئې کړې دې چې د صوفياؤ ډير داسې قيصې دي چې عام خلقو فهم و سخن باندې پوره نه پرېوځي.

KERINDUAN KEPADA SANG KEKASIH

oh .....
betapa kerinduan yang terdalam kepadamu wahai kekasihku
kau yang hadir tapi tak terasa dan tak terlihat
akankah diri ini dapat bertemu.

Minggu, 25 November 2007

MENGOREKSI TASAUF

Mengoreksi Ajaran Tasawuf

Oleh :

M. Thoyib HM



ada hakekatnya ajaran tasawuf yang dianut umat Islam bercorak panteistis, hasil dari konsepsi filsafat yang disebut monisme. Yaitu konsepsi yang menyatakan bahwa Tuhan dan alam adalah satu. Bahkan jika diurut-urut lebih jauh, konsepsi monisme dengan panteismenya ternyata bersumber dari ajaran Hindu.

Drs H Abdul Qadir Djaelani seorang da’i yang pernah mendekam di penjara di masa Soeharto akibat menentang asa tunggal Pancasila dsb, produktif menulis buku (kini sekitar 14 buku diantaranya menanggapi pendapat-pendapat pembaharu/ neomodernis) ini merasa gemas melihat merebaknya tasawuf dan tarekat di kalangan umat Islam. Dia menulis kritik tajam terhadap tasawuf dalam buku yang berjudul Koreksi terhadap Ajaran Tasawuf diterbitkan GIP Jakarta, cet I 1996, 240 halaman. Dia menohok tokoh-tokoh tasawwuf yang ia nilai melenceng dari Islam seperti Al-Hallaj yang dibunuh oleh para ulama dan Ibnu Arabi yang dikafirkan oleh para ulama.

Berbagai metode ajaran tasawuf dibelejeti dalam buku ini, yang menurut Abdul Qadir (AQ) menyimpang dari Islam seperti zuhud, bai’at dan ketaatan mutlak, wasilah dan rabithah, serta uzlah dan khalwat. Ia juga menghujat praktik ekstase (junun) yang dilakukan para sufi (orang tasawuf).
Secara tegas, AQ mengawali bukunya dengan ungkapan yang menyentak, bahwa teori-teori yang diajarkan oleh berbagai macam aliran tasawuf, baik teori wihdatil wujud, wihdatus syuhud, al-ittihad, al-ittishal, al-hulul, atau al-liqa’, semuanya bersifat panteistis. Itu ujung-ujungnya adalah ajaran Hindu yang berpengaruh terhadap Yunani kuno dan kemudian diambil ke tasawuf Islam lewat penerjemahan-penerjemahan yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang Kristen zaman kekhalifahan abad kedua Hijriah.

Istilah Sufi

Jika istilah “sufi” ini diduga berasal dari kata shophia (bahasa Yunani), maka hal ini lebih dapat diterima. Sebab, sumber pemikiran Islam yang kedua setelah Al-Quran dan al-Hadits berasal dari negeri-negeri seperti Syria, Mesir, dan Persia, dengan pikiran-pikiran Yunani menjadi induk pemikiran di negeri-negeri tersebut. Pikiran neoplatonisme (Plotinus, wafat 269M), filosof Kristen yang mengajarkan tentang emanasi dan panteisme –yang sangat berpengaruh di dunia Kristen– juga berasal dari pikiran Yunani, khususnya pikiran Aristoteles dan Prophiry. (hal 13).

Sementara itu, dari data yang terungkap, orang pertama yang mendapat gelar “sufi” adalah Abu Hasyim Al-Kufi (wafat 150 H/ 761M) dari Kufah, bukan dari Makkah atau Madinah, dan ia dari generasi tabi’in, bukan dari generasi sahabat. Sedangkan di sisi lain, masa terjemahan telah terjadi terlebih dahulu, paling tidak
beberapa puluh tahun sebelum munculnya orang pertama yang bergelar sufi itu.
Jika istilah “sufi” itu juga dianggap berasal dari kata shuf (bulu domba, wol kasar) yang biasa dipakai oleh para sufi Kristen, hal ini bisa diterima, bahkan antara kata shophia dan shuf saling menguatkan. Sebab ajaran sufi di dunia Kristen yang paling berpengaruh berasal dari Plotinus, sehingga sangat logis jika aliran ini berpengaruh pada kaum sufi Kristen di Syria, Mesir, Baghdad dan Yaman. Lebih memperkuat lagi ialah bahwa kaum sufi muslim pada umumnya memakai kain shuf. (hal 14).

Selanjutnya AQ mengemukakan definisi tasawuf dengan mengutip beberapa orang di antaranya pendapat Bandar bin al-Husein, Sahal bin Abdullah at-Turturi, dan Al-Junaid (wafat 910M, tokoh tasawuf yang resmi dianut oleh orang tradisionalis di Indonesia, pen). Al-Junaid berkata: “Tasawuf berarti bahwa Tuhan menjadikan kamu mati, untuk hidup kembali di dalam-Nya.” (hal 15). Sedangkan Abu Yazid Busthami berkata: “Jika aku terhapus, maka Tuhan adalah kaca-Nya sendiri dalam aku.” (hal 15).
Lalu AQ menyimpulkan, pengertian tasawuf menurut istilah, tidak lain yaitu suatu usaha yang sungguh-sungguh dengan jalan mengasingkan diri sambil bertafakur (kontemplasi), melepaskan diri dari segala yang bersifat duniawi dan memusatkan diri hanya kepada Tuhan sehingga bersatu dengan-Nya.

Tasawuf dari Hindu

AQ berkeyakinan bahwa tasawuf itu berasal dari Hindu di antaranya dengan bukti: tujuan akhir dari peribadatan dalam agama Hindu adalah bersatunya kembali antara atman (ruh atau substansi) dengan brahman (ruh alam semesta atau Tuhan). Ajaran Hindu sangat berpengaruh terhadap bangsa Yunani kuno, baik dalam bentuk mitologi, filsafat, maupun mistik. Sehingga kita ketahui bahwa Plato dan Pythagoras adalah dua tokoh penganut ajaran reinkarnasi yang berasal dari ajaran Hindu. (hal 9).

Menurut M Horten (yang didukung R Hartman), tasawuf berasal dari alam pemikiran India. Dalam hal ini Horten telah melakukan penelitian yang lama untuk menguatkan pendapatnya itu. Akan tetapi pendapat tersebut kemudian ia revisi setelah ia melakukan analisis terhadap tasawuf al-Hallaj, al-Busthami, dan al-Junaid, dengan mengatakan bahwa tasawuf abad ketiga Hijriah-lah yang sangat dipengaruhi alam pemikiran India, terutama ajaran al-Hallaj. Horten pun berusaha keras mengokohkan teorinya ini dengan salah satu penelitiannya untuk menetapkan bahwa tasawuf berasal dari sumber India. Penelitian fisiologis yang dilakukannya terhadap berbagai terminologi para sufi Persia akhirnya membuatnya berkesimpulan bahwa tasawuf berasal dari aliran Vedanta di India. (hal 18).
Sementara itu Hartman, yang berusaha keras pula, membuktikan asal usul atau sumber tasawuf dari India. Ia mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

1. Kebanyakan angkatan pertama sufi berasal bukan dari Arab. Misalnya Ibrahim bin Adham, Syaqiq al-Balakhi, Abu Yazid al-Busthami, dan Yahya ibn Ma’az ar Radzi.
2. Kemunculan dan penyebaran tasawuf untuk pertama kalinya adalah di Khurasan (Parsi).
3. Pada masa sebelum Islam, Turkestan merupakan pusat pertama berbagai agama dan kebudayaan Timur dan Barat. Dan ketika para penduduk kawasan itu memeluk agama Islam, mereka mewarnainya dengan corak mistisisme lama.
4. Kaum muslim sendiri mengakui adanya pengaruh India tersebut.
5. Aksetisisme Islam (kebatinan) yang pertama adalah bercorak India, baik dalam kecenderungannya maupun metode-metodenya. Keluasan batin, pemakaian tasbih, misalnya, merupakan gagasan dan praktik yang berasal dari India. (hal 19).

Berasal dari Yunani dan asing

Kemudian cukup banyak para orientalis yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari tradisi pemikiran Yunani. Para orientalis yang berpendapat seperti ini lebih menaruh perhatian terhadap tasawuf yang mulai muncul pada abad ketiga Hijriah, lewat Dzun Nun al-Mishri, wafat 245H. (hal 19).
Muhammad Al-Bahiy (intelektual Islam Mesir, pen) menyatakan tentang adanya intervensi (penyusupan) alam pikiran asing, seperti paganisme Mesir, agama Budha, agama Hindu, agama Zaratrusta, ajaran Manu, Kristen, Yahudi, dan filsafat Yunani.

Dalam kaitan ini secara khusus filsafat Yunani telah:
1. Menimbulkan aliran-aliran filsafat di antaranya:
a. filsafat metafisika yang diwakili oleh Ibnu Sina di Timur dan Ibnu Rusyd di Barat; b. filsafat alam (fisika) yang diwakili oleh Abu Bakar ar-Razi. c. filsafat emanasi yang diwakili oleh Suhrawardi.
2. Membantu kelahiran:
a. tasawuf zuhud yang diwakili oleh Abdul Haris al-Muhasibi;
b. tasawuf filsafat yang diwakili oleh al-Ghazali; c. tasawuf India, Kristen, dan neoplatonisme yang diwakili oleh Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in, dan al-Hallaj. (hal 23).
Selanjutnya, AQ membuktikan bahwa esensi ajaran tasawuf dan praktik-praktik amaliahnya berasal dari asing, yakni Kristen, Yunani, dan Hindu, maka secara prinsipil bertentangan dengan Islam.
Kalau Abdul Qadir Djaelani membuktikannya dengan buku setebal 240 halaman, maka secara mudah ulama tua KH Ghofar Isma’il (almarhum, ayah penyair dr Taufik Isma’il) dalam ceramah-ceramah pengajian tafsirnya cukup menjelaskan pada umat, kalau ada guru yang memberikan amalan-amalan (lafal-lafal dzikir) untuk dibaca sekian kali, itu harus dilandasi hadits yang shohih. Bila tidak, maka perlu diragukan kebenarannya.

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com